“Calon Ulama Lampung” di Mesir

‘Calon Ulama’ Lampung di Mesir

Udo Yamin MajdiDirektur Eksekutif Word Smart Center Cairo, Mahasiswa Fakultas Syariah wal Qanun Universitas Al-Azhar Tafahna Al-Asyraf, Mesir

Dalam rangka suksesnya pembangunan masyarakat Lampung”, tulis M. Afif Anshori, direktur eksekutif Ikatan Jaringan Kerja Sama (Ikrama) Pondok Pesantren se-Lampung, dalam rubrik Opini Lampung Post (7-11). “Pemda harus mampu menggandeng dan memfasilitasi para ulama, bahkan ‘calon ulama’ yang dikader di pesantren; apakah dengan pembangunan akses infrastruktur ke pesantren di perdesaan, pelatihan life skill, pemberian bantuan modal usaha, dan sebagainya. Bahkan harus dimasukkan dalam salah satu program pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.”

“Calon ulama” yang termaktub pada tulisan berjudul Lampung Gudang Ulama, Sebuah Obsesi itu terkesan hanya ditujukan kepada para santri di pesantren Lampung saja. Padahal, masih ada calon ulama lain yang perlu dirangkul Pemda Lampung, yaitu para mahasiswa asal Lampung di Universitas Al-Azhar Mesir. Para calon ulama ini seakan-akan dilupakan Pemda Lampung sehingga ketika mereka pulang dari Mesir banyak yang mengabdi di luar Lampung. Sebenarnya, hal ini tidak terjadi manakala Pemda Lampung berusaha mendekati mereka sejak masih di Mesir, sebagaimana yang dilakukan beberapa pemda lainnya.

Mahasiswa dan Organisasi Daerah

Mahasiswa Indonesia belajar ke Mesir sudah ada sejak prakemerdekaan RI. Tahun 1923, berdiri organisasi bernama Al-Jami’ah Al-Khairiyah li Thalabah Al-Azhariyah Al-Jawiyah. Tahun 1937 berganti nama dengan Perhimpunan Indonesia Malayu, yang anggotanya tidak hanya dari Indonesia melainkan dari semua rumpun Melayu seperti Malaysia, Thailand, dan seterusnya.

Karena mahasiswa asal Indonesia makin banyak, tahun 1951 memisahkan diri dengan nama Ikatan Indonesia. Tahun 1956 berubah nama menjadi Himpunan Pemuda Pelajar Indonesia (HPPI). Lalu, berubah nama lagi menjadi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) tahun 1970. Pada 18 Juni 1987 lewat SK Dubes RI No.SKEP/013/VI/1987, PPI dinyatakan bubar sebab menolak asas tunggal.

Tahun itu pula, lahirlah Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI). Pada musyawarah besar tanggal 28 November 1995, HPMI berubah nama menjadi Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) hingga dipakai sampai hari ini.

Saat ini mahasiswa Indonesia di Mesir berjumlah 5.083 orang, tersebar di beberapa kota. Di Kairo sebanyak 3.985 orang. Di Zaqaziq 80 orang, di Manshura 70 orang, di Thanta 75 orang, di Tafahna 120 orang, di Damanhur 6 orang, di Dimyath 15 orang, dan di Alexandria 5 orang.

Berdasarkan strata pendidikan, pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir terdiri dari pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah serta nonformal sebanyak 119 orang; S1 di Universitas Al-Azhar sebanyak 4.602 orang; S2 di Universitas Al-Azhar dan perguruan tinggi lainnya sebanyak 336 orang; S3 di Universitas Al-Azhar dan perguruan tinggi lainnya sebanyak 26 orang; dan mahasiswa baru tahun akademik 2007–2008 sebanyak 453 orang.

Mereka adalah lulusan pesantren atau madrasah aliah dan berasal dari berbagai daerah di Tanah Air. Mereka memperoleh beasiswa gratis biaya kuliah dan 35% mendapatkan tunjangan dari berbagai instansi di Mesir–misalnya dari Jam’iyyah Syar’iyah berupa sembako dan uang 50 poundsterling setiap bulan–dan sebagian lainnya mengandalkan kiriman orang tua atau pemasukan dari berbagai usaha dan sumber lain.

Semua mahasiswa Indonesia itu menjadi anggota PPMI sebagai organisasi induk. Akan tetapi dalam beraktivitas terbagi-bagi menjadi 16 organisasi kedaerahan berikut ini: Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA), Himpunan Mahasiswa Medan (HMM), Keluarga Pelajar Tapanuli Selatan (KPTS), Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KMM), Kelompok Studi Mahasiswa Riau (KSMR), Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ), Kemass (Keluarga Masyarakat Sumatera Bagian Selatan), Keluarga Mahasiswa Banten (KMB), Keluarga Pelajar Jakarta (KPJ), Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB), Kelompok Studi Walisongo (KSW), Gabungan Mahasiswa Jawa Timur (Gamajatim), Forum Studi Keluarga Madura (Fosgama), Keluarga Mahasiswa Kalimantan Mesir (KMKM), Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS), dan Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara dan Bali (KMNTB).

Tahun 2002, Prof. Dr. Bachtiar Aly, M.A. menjadi dubes RI Mesir. Beliau menggagas berdirinya rumah daerah, kerja sama antara organisasi daerah itu dengan pemda masing-masing. Sehingga berdirilah Graha Jatim milik Gamajatim, Griya milik KSW, Pasangrahan milik KPMJB, Wisma Jakarta milik KPJ, Baruga milik KKS, Istana Maimoen milik HMM, Maligue milik KMA, Asrama Mahasiswa milik KMM, dan seterusnya. Bantuan dari pemda untuk membeli saqah (flat) dan imarah (apartemen) itu, masing-masing mulai dari satu miliar hingga tiga miliar.

Selain bantuan membeli saqah dan imarah, beberapa pemda juga memberikan beasiswa 100 dolar per bulan untuk putra-putri daerah mereka bahkan ada yang Rp100 juta per orang untuk menyelesaikan S-2. Ada juga organisasi daerah bekerja sama dengan pemdanya dalam melayani jemaah haji di Arab Saudi.

Ikmal Mesir

Sejak 1959 hingga saat ini, mahasiswa asal Lampung–juga Bengkulu dan Bangka–bergabung dengan Kemass sebab jumlahnya sedikit. Dan 1999, mahasiswa Lampung di Mesir bertambah.

Tahun 2000 berdirilah Forum Mahasiswa Lampung (Fosmal). Namun, Fosmal tidak aktif sampai kemudian 20 Juni 2008 ada kesepakatan mendirikan Ikatan Masyarakat Lampung (IKMAL) Mesir dengan anggota 63 orang.

Organisasi yang diketuai Ahmad Al-Akhran–asal Kalianda, Lampung Selatan–ini dibentuk dengan tujuan (1) menjalin silaturahmi antarmahasiswa/i dan masyarakat asal Lampung di Mesir; (2) mendukung dan membantu anggotanya meraih sukses akademis dan sosial; dan (3) membangun jaringan supaya bersinergi ketika mengabdi di Lampung.

Kegiatan Ikmal selama ini lebih terfokus pada kajian keilmuan dan pembinaan anggota. Selain itu, beberapa kegiatan yang bermaksud untuk mempererat tali persaudaraan. Misalnya, pada bulan suci Ramadan lalu, Ikmal menyelenggarakan ifthor jama’i (buka puasa bersama).

Membangun Sinergitas®MDUL¯

Untuk menjadikan Lampung sebagai gudang ulama, itu sangat mungkin manakala seluruh komponen bersinergitas mewujudkannya. Komponen itu adalah (1) pesantren dan IKMAL sebagai calon ulama; (2) alumni pesantren dan mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir) di Lampung; (3) Pemda Lampung; (4) Ikatan Jaringan Kerja Sama (Ikrama) Pondok Pesantren se-Lampung; (5) LSM atau yayasan pendidikan; dan (6) seluruh masyarakat Lampung.

Meskipun Pemda Lampung–dan stakeholder lainnya–belum siap melakukan seperti pemda lain yang membuatkan rumah daerah sebagai pusat kegiatan, memberikan beasiswa, dan bekerja sama dalam bidang keagamaan, sosial, budaya, serta pembinaan jamaah haji; atau apa yang diharapkan oleh Afif Anshori di atas–memasukkan IKMAL dalam program Badan Perencanaan Pembangunan Daerah–paling tidak harus ada komunikasi antara pemda dengan calon ulama di Mesir itu. Dengan demikian, mudah-mudahan dari dialog itu akan muncul ide-ide brilian dan sinergitas untuk mewujudkan Lampung gudang ulama. Nah, bila Ikmal telah melempar bola, maka siapkah Pemda Lampung menyambutnya? Wallahualam. n

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008111921284520

1 Komentar

Filed under ARTIKEL

One response to ““Calon Ulama Lampung” di Mesir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s