Kajian Intelektual; Modifikasi atau Pencerahan

Kajian Intelektual; Modifikasi atau Pencerahan

Oleh: Ahmad Subqi*

Segala sesuatu membutuhkan akal pikiran dan akal pikiran membutuhkan ilmu”. (Tarikh Ya’quby)

Pertama kalau saya boleh beranalogi pada kajian-kajian intelektual yang sedang berkembang pada zaman ini khususnya di kalangan mahasiswa, apalagi mahasiswa yang berkutat dalam wilayah teks dan konteks agama islam. Tak ayal ketika ajaran islam diibaratkan sebgai sebuah mobil yang sudah tidak terlihat aslinya. Dalam artian sudah kotor atau ada beberapa komponen yang rusak. Seperti itulah kemurnian ajaran agama islam secara realitanya ketika akita analogikan kepada sebuah mobil yang rusak. Namun apakan kita sebagai generasi muda islam bersikap mengembalikan bentuk mobil itu pada bentuk semula atau malah memodifikasinya sehingga menjadi mobil yang cantik dan terkesan gaul.

Agama islam dan ajarannya yang pada zaman sekarang ini sudah semakin terkontimidasi dengan budaya-budaya barat dan kajian-kajian orientlis yang fanatik. Apalagi banyak terjadi hal-hal yang baru dalam agama dan tidak sesuai dengan syariat seperti syirik. Khurafat, bid’ah dan lain-lain. Ini membuat kita sebagai generasi muda islam harus mengembalikan islam kepada ajaran yang murni dan sesuai dengan syariat yang telah digariskan oleh Alloh dan rasulnya seperti kita membenahi mobil yang telah rusak tadi. Bukan malah membuat agama islam seakan menjadi ajang untuk saling bergengsi dalam hal perkembangan intelektual maupun kebudayaan. Kita seharusnya melakukan kajian hanyalah untuk untuk memahaminya dan mempelajarinya.

Memang islam adalah agama yang syamil mutakammil dan agama yang berada dalam garis tengah juga agama yang fleksibel. Namun tidak serta merta kita mengkaji pemikran islam atas dasar karena mengikuti zaman yang moderen atau takut disebut anti barat seperti yang dilakuakn oleh para kaum liberal dan pluralis. Padahal sejatinya sendiri harus ada perbedaan antara islam dan budaya barat secara mendalam.

Agama islam yang shohih likulli zaman wal makan ini mendorong kita untuk mengkaji intelektual tentang makna kata tersebut secara mendalam. Bagaimana supaya agama islam relefan dalam segala permasalahan masyarakat yang terjadi. Bagaimana agar kajian-kajian islam tidak lagi dianggap saklek dan stagnan. Bagaimana supaya kajian-kajian tentang islam semakin luas dan signifikan. Tentunya itu semua kembali kepada kita dan keilmuan kita seperti dikatakan oleh ahli hikmah “Baran g siapa menuntut ilmu karena kecintaan atau ketakutan atau demi persaingan atau karena nafsu syahwat, maka yang didapatkannya akan sepadan dengan tujuannya. Namun barang siapa menuntut ilmu karena kemuliaan ilmu tersebut dan mempelajarinya demi kemuliaan pemahaman, maka yang didapatinya sepadan dengan kemulian ilmu dan manfaat yang diambilnya dari ilmu tersebut sesuai apa yang mampu dicapai olehnya”

Al Azhar yang merupaka salah satu universitas islam di dunia yang tetua dan paling disorot oleh dunia islam. Adalah menjadi salah satu pusat kajian-kajian islam yang sangat signifikan. Telebih dengan ulama-ulamanya yang mempunyai pemikiran pencerahan terhadap islam sperti Muhammad abduh, muhamad rasid ridha, dan lain-lain membuat islam semakin bangkit dan berkembang.

Kita sebagai mahasiswa Al-Azhar juga mempunyai tanggung jawab yang sama seperti para ulama-ulama tersebut. Harus mampu mencerahkan islam kepada ajaran yang relefan, bukan malah memodifikasi islam dan membuatnya sama dengan ajaran lainnya bahkan membumbuinya dengan pemikiran liberal dan plural.

Banyaknya kajian-kajian intelaktual yang berada di lingkungan masisir (mahasiswa Indonesia mesir) baik yang diadakan oleh PPMI, organiusasi almamater, afiliatif dan lain-lain merupakan tantangan buat kita. Kita harus menguji kemampuan intelektual kita terhadap kajian-kajian islam secara mendalam melalui kajan tersebut. Oleh Karen a itulah ketika kita dihadapkan kepada suatu masalah yang komplek maka kita mampu menjawabnya. Apalagi seorang mahasiswa yang mempunyai tanggung jawab berat di kampung halamannya mengenai dakwah islam itu sendiri dengan keadaaan sosio-kultural masyarakat Indonesia yang semakin berkembang.

Mulai dari sini kita harus bangkit dengan hal yang terkecil seperti membaca dan memahami islam untuk mengembangkan intelektualitas. Karena semenjak awal fajar peradaban membaca dianggap sebagai alat terpenting bagi ilmu pengetahuan, membaca adalah unsur yang tidak mungkin tidak dibutuhkan dalam unsur-unsur pembentukan peradaban

Bahkan seorang hakim mesir kuno mengukir wasiat untuk anaknya di atas daun papyrus “Wahai anakku letakkan hatimu di belakang buku-bukumu, cintai ia bagaikan engkau mencintai ibumu. Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dari buku”.

Dr. Thaha Husein mengatakan “Membaca adalah hak bagi setiap manusia, bahkan kewajiban yang mutlak bagi seluruh manusia yang ingin hidup dalam kehidupan yang lebih baik”. Oleh sebab itu awali jalan tumpuan perkembangan intelektualitas kita dengan membaca insyaAlloh roda perkembangan pemikiran kita akan luas dan tidak dangkal. Karena seorang yang bodoh adalah tidak memiliki inspirasi yang hebat dan pemahaman yang dangkal terhadap agama. Kita hidup di dunia hanya sekali hiduplah yang berarti bagi umat islam, negara dan bangsa. Dr. Al-Aqqad mengatakan “Sebenarnya saya sangat suka membaca, dikarenakan saya hanya memiliki satu kehidupan di dunia ini, dan satu kehidupan tidaklah cukup bagi saya”. Oleh sebab itu awali jalan tumpuan perkembangan intelektualitas kita dengan membaca. [pimred]

*) Pengurus IKMAL Bag. Pendidikan 2008-2009. Mahasiswa Syari’ah Islamiyah Tkt 2, Asal Tanggamus.

Tinggalkan komentar

Filed under KAJIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s