Memahami Kembali Orientalism (Al Istisraq); Sebagai Bekal Kajian Islam

Memahami Kembali Orientalism (Al Istisraq); Sebagai Bekal Kajian Islam

Oleh : Ahmad Subqi*

“Identitas suatu peradaban dengan menggunakan tolak ukur weltanschauung (worldview) akan dapat dengan mudah diketahui. Dengan itu pula akan dapat diketahui bahwa antara Islam dan Barat telah dan tengah terjadi ghazw al-fikr (perang pemikiran).”

Pendahuluan

Sejenak kita menolehkan pandangan kita kepada lembaran-lembaran sejarah silam di mana di situ tertoreh peradaban Islam yang gemilang dengan berbagai kejayaan di berbagai bidang. Bukan hanya luasnya wilayah kekuasaan namun juga kontribusi yang sangat berharga terhadap peradaban manusia khususnya dunia Arab yang menurut Seyyed Hossein Nasr sumbangan peradaban tersebut mencakup segala bidang ilmu pengetahuan. Sungguh di luar jangkauan nalar logis manusia, sebuah peradaban yang gemilang bisa muncul dari tengah gurun pasir yang gersang, kering dan penduduk yang keras sifatnya. Peradaban tersebut tidak hanya mengangkat bangsa Arab namun juga menjadi sumber inspirasi perkembangan dunia kontemporer.

Kenyataan tersebut membuat geram para musuh Islam khususnya kaum Barat yang menghendaki runtuhnya Islam. Sehingga mereka menggunakan berbagai cara untuk memutar balikkan fakta dari yang paling santun hingga yang brutal dan kasar. Maka tidak heran apabila kajian orientalis (mustasyriqin) pada awal mulanya bertaburan dengan nada sinis dan garang dalam menggambarkan Islam. Namun, bagaimanapun juga kebenaran mustahil untuk ditutupi sehingga perlahan namun pasti ada pergeseran opini mereka mengenai Islam. Lambat laun mereka semakin mengetahui, Islam yang sebenarnya adalah agama yang haq dan sangat rasional sehingga tak jarang para orientalis tersebut pada akhirnya terpikat dengan Islam dan dengan bangga menyatakan untuk masuk Islam. Munculnya berbagai karangan dan penelitian yang objektif terhadap Islam merupakan bukti signifikan atas pergeseran opini tersebut. Di penghujung abad duapuluhan kajian-kajian Islam yang objektif bermunculan dari berbagai pemikir-pemikir dunia khususnya kaum orientalis yang itu merupakan tugas yang berat bagi sarjana muslim untuk dapat mengimbanginya bahkan menyerahkan kelanjutannya kepada para cendekiawan muslim.

Pengertian dan Sejarah Terbentuknya Gerakan Orientalis

Orientalime (al-Istisyraq) adalah suatu pandangan pemikiran yang menjelaskan (menggambarkan) kajian-kajian tentang ‘Islam Timur’ baik dalam segi agama, peradaban, sastra, bahasa dan pengetahuan (tsaqafah)[1]. Pemikiran ini berawal dari orang-orang Barat yang tidak menyukai Islam (meskipun ada juga yang pro terhadap Islam). Juga merupakan pandangan miring Barat terhadap dunia Islam dengan membandingkan peradaban Barat dan Islam. Orang-orang yang concern dalam bidang pemahaman ini kemudian disebut orientalis (mustasyriqin).

Memang susah menentukan kapan terbentuknya gerakan orientalis ini, karena setelah masa kejayaan Islam pada Daulah Islamiyah di Andalus yang pada waktu itu para pemikir Islam berjaya dengan menciptakan berbagai macam ilmu pengetahuan kemudian semakin suram setelah kejadian perang Salib. Ini belum dapat dideteksi namun merupakan salah satu sebab terkuasainya dunia Islam oleh Barat. Sehingga terdapat indikasi tercampurnya dunia Islam dengan Barat.

Namun para orientalis yang mengkaji ketuhanan (teologi) sudah dapat terdeteksi keberadaanya ketika disahkannya salah satu lembaga kajian gereja pada tahun 1312 M. Dari situ pula mulai bermunculan kajian-kajian tentang bahasa arab di berbagai perguruan tinggi di Eropa. Akan tetapi, istilah orientalis kurang begitu dikenal di dunia Eropa hingga akhir abad 18. Setelah itu baru dikenal jelas oleh masyarakat dunia dengan munculnya gerakan orientalis pertama yaitu salah satunya di Perancis pada tahun 1899 M. Dari situ pula, pada tahun 1130 M semakin banyaknya upaya penerjemahan kitab-kitab bahasa arab ke bahasa Eropa.

Seorang pemikir asal Italia, Gerard de Gremona pada tahun 1187 banyak menerjemahkan kitab-kitab bahasa arab hampir dari 87 kitab, baik mengenai ilmu filsafat, kedokteran, ilmu falak, matematika dan lain-lain. Juga pada tahun 1156 , Pierre le Venerable, seorang pemikir asal Prancis mencoba mengorek semua maudu’-maudu’ mengenai keilmuan Islam dengan menerjemahkan semua kitab-kitab berbahasa arab. Bahkan beliau merupakan orang yang pertama kali menerjemahkan Al-Qur`an ke dalam bahasa latin dan selanjutnya disusul oleh Robert of Ketton yang menerjemahkan Al-Qur`an ke dalam bahasa Inggris. Selain mereka masih ada banyak lagi sarjana-sarjana barat yang berbondong-bondong memahami Islam demi persaingan peradaban.

Orientalis, Musuh atau Kawan

Sejarah mencatat bahwasanya orientalis barat berusaha dengan giat untuk selalu mencari titik kelemahan Islam, dari keotentikan Al-Qur`an kemudian kritik atas hadis dan lainnya. Apalagi setelah mereka gagal mengaburkan otentitas kitab suci, mereka beralih pada penelitian yang bertujuan ingin menyimpulkan bahwasanya Islam adalah agama yang irasional, tidak masuk akal dan penuh khurafat.

Walau bagaimanapun, gigihnya usaha mereka membuktikan bahwa ajaran Islam tidak relevan dengan akal berujung dengan tangan hampa. Alih-alih menyatakan kestatisan Islam, mereka malah terperanjat kaget betapa rasionalnya ajaran Islam. Hal ini terbukti dari studi dan kajian mereka tentang ilmu kalam (teologi) dan filsafat Islam. Dari dua disiplin ilmu tadilah mereka menemukan ajaran Islam sesungguhnya dan menjadi sadar. Karena itu ilmu kalam oleh para ahli Barat disebut teologi rasional atau teologi dialektis. Tidak seperti teologi Kristen yang dogmatis, ilmu kalam sangat dialektis dan logis.

Dengan mempelajari ilmu kalam yang mengakibatkan berbagai polemik pemikiran keyakinan, akan melatih umat Islam juga untuk melihat kembali agamanya. Memang, kita harus berfikir jernih dan lebih mengkaji ulang tentang kajian-kajian orientalis terhadap peradaban Islam karena walau bagaimanapun agama Islam sudah berada di tangan umatnya selama 15 abad. Kita tidak boleh melihat perjalanan panjang itu dengan hampa tanpa makna. Sudah barang tentu banyak hal negatif maupun positif yang terjadi dalam kurun waktu sepanjang itu. Hal tersebut tentunya sedikit terkoreksi oleh kajian para orientalis.

Oleh karena itu, perlu kita ketahui bahwa hal yang menjadi kelemahan orientalis ialah titik tolak dari iman, mereka berangkat dari ketidakpercayaan kepada agama Islam, artinya mereka mengkaji Islam tetapi hanya untuk sekedar penelitian atau perbandingan. Sehingga kajian-kajiannya tidak berefek terhadap keyakinannya. Meskipun ada orientalis-orientalis yang mendapat hidayah dari Allah dan kemudian masuk Islam. Itu juga karena Islam dilihat sebagai fenomena dan gejala yang diobservasi, yang membuat kajian mereka menjadi fenomenologis.

Beranjak dari situ dapat kita cermati bahwa memang tidak selamanya para orientalis kontra dan benci terhadap Islam, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya para orientalis yang mengkaji Islam lalu masuk Islam kemudian mengkonter pendapat orientalis lainnya yang non-Islam. Atau para orientalis non-Islam tetapi mereka tidak suka terhadap kajian orientalis non-Islam juga karena terlalu memojokkan salah satu pihak dan mencoba menghancurkannya. Oleh karena itu ecara keobjektivitasannya orientalis dapat dibagi menjadi dua golongan:

Pertama: orientalis moderat yang objektif (munshafun) yaitu para orientalis yang muthawashith (adil) dan menilai Islam secara objektif tanpa tujuan untuk memojokkan Islam dan menjelek-jelekannya. Mereka menilai Islam dari berbagai wawasan keilmuan yang bijak tanpa menilai miring kedua belah pihak (Islam-Barat).

Tidak bisa kita pungkiri bahwa banyak sumbangan orientalis golongan ini kepada dunia Islam, meskipun dampak negatifnya lebih banyak (namun hal tersebut tidak boleh melunturkan nilai objektivitas dalam diri kita). Seperti contohnya Hardrian Roland, seorang dosen bahasa timur (Arab) di universitas Inggris dengan bukunya “al-Diyânah al-Muhammadiyah” dalam bahasa latin mencoba mengkaji agama Islam dengan doktrin tengahnya, tetapi kemudian pihak gereja Eropa mengharamkan kitab itu untuk dipelajari. Silvestre de Scay, orientalis asal Jerman serta pakar nahwu dan adab yang kemudian menjadikan Paris sebagai markas kajian bahasa arab yang juga menjauhkan kajiannya dari kritik miring terhadap Islam. Thomas Arnold, orientalis asal Inggris dengan bukuya “ad-Da’wah ila al-Islam“. Gustaf Lobun, seorang orientalis dan filosof yang tidak percaya terhadap agama, dengan kajiannya yang inshof (moderat) terhadap peradaban Islam tanpa mendukung agama manapun (Kristen-Islam). Kemudian Zejrid Hunkah dengan kajiannya yang inshof tentang pengaruh peradaban Arab terhadap Barat dan menjadi sebuah buku yang diberi nama “Syamsu al-Arabiyyah Tastho’u ‘ala al-Ghorb”. Contoh lain adalah Edward Said seorang kristen keturunan Palestina yang kemudian berusaha membongkar kedok dan kepalsuan orientalisme dalam bukunya “Orientalism” (Buku ini mendapat respon yang massif, terutama dari kaum orientalis, salah satunya adalah Bernard Lewis). Reaksi itu muncul karena di dalamnya menunjukkan bahwa orientalisme itu dimotivasi oleh kolonialisme[2]. Serta masih banyak lagi para orientalis yang dalam kajiannya moderat, objektif dan inshof.

Kedua : orientalis yang fanatik (muta’ashabun) yaitu para orientalis yang sangat fanatik terhadap Barat, kemudian mempelajari Islam untuk mencari kelemahan dan memojokkannya. Sebagai salah satu contoh, dalam kajian studi orientalis tentang filsafat Islam ada kesan kuat yang sudah berkembang dan mengakar sejak awal kajian mereka bahwa filsafat Islam tidaklah benar-benar Islam. Ia tidak lebih dari sekedar filsafat Yunani kuno berbaju Islam yang berbahasa Arab. Mereka menambahkan, peran filsafat Islam tidak lebih sebagai penyambung peradaban Yunani setelah terputus berabad-abad di bawah hegemoni gereja, tidak ada otentisitas dalam filsafat Islam melainkan duplikasi atau jiplakan dari filsafat Yunani. Bahkan lebih dari itu menurut mayoritas orientalis justru filsafat Islam menjadi polusi dan limbah yang mengotori atmosfir keilmuan dan peradaban Yunani dalam hembusan angin sejarah manusia.

Namun sebenarnya adalah sebagaimana ilmu-ilmu Islam yang lain, filsafat Islam pada hakikatnya bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah. Dengan landasan inilah S.H. Nasr menyatakan bahwa filsafat Islam disebut Islam bukan hanya karena pemekaran filsafat di dunia Islam dan di tangan para sarjana muslim, melainkan karena seluruh prinsip, inspirasi, dan pokok soalnya bermuara pada sumber utama, yaitu wahyu Islam[3].

Banyak sekali para orientalis yang ta’ashub terhadap Barat di antaranya adalah Goldzier, seorang orientalis Yahudi dengan bukunya “Tarikh Madzahib at-Tafsir al-Islami”. Kemudian dapat dideteksi bahwa orientalisme terikat dengan bias kolonialisme yang akhirnya kehilangan sebagian watak ilmiahnya, makanya mereka fanatik dan kemudian menjadi alat penjajah, misal yang dramatis sekali seperti yang dilakukan oleh Snouck Hourgronye di negara kita. Katanya hadit “ad-dunya sijnu al umin” itu adalah buatan Van Der Plas. Contoh yang lain adalah ungkapan Clifford Geertz dalam bukunya “Islam in Java”. Dari buku tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa Geertz adalah tokoh orientalis yang bias kolonial, yang sangat negatif dalam memandang Islam dan mencoba untuk memahami Islam.

Penutup

Bagaimanapun, tren positifnya tentu ada, dan itu menghasilkan kenyataan baru, misalnya sejak awal abad 20-an semakin banyak pusat-pusat kajian Islam di Barat yang diserahkan pelaksanaanya kepada muslim seperti Hasyim Mahdi, Hamid Algar dan juga Seyyed Hussein Nasr, ada juga Ismail Raji al-Faruqi yang syahid itu.

Terlepas dari konspirasi terselubung Barat dalam pengangkatan tersebut, pengangkatan orang Islam dalam pusat kajian Islam di Barat merupakan langkah positif untuk meletakkan Islam kepada posisi yang sebenarnya di mata Barat. Sekali lagi mari kita melihat orientalisme dengan kacamata ilmiah dan objektif, sehingga terjadi dialog peradaban yang kondusif dan proposional dengan syarat jangan sampai tamu (Barat) menjadi tuan rumah di rumah kita.

*) Mahasiswa Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar Mesir. Pengurus IKMAL bag. Pendidikan.


2. al mausuah al muyassarah fi al adyan wa al madzahib al mu’asirah

3. (untuk lebih jelasnya baca, Edward Said, Orientalism, 2006).

4. (S.H. Nasr dan Oliever Leaman: 1996(

1 Komentar

Filed under KAJIAN

One response to “Memahami Kembali Orientalism (Al Istisraq); Sebagai Bekal Kajian Islam

  1. Ping-balik: kajian…… « subqie’s dream blogs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s